Selasa, 27 Januari 2026

Kasih Ibu dalam Doa yang Panjang



Namaku mungkin hanya satu di antara ribuan santri yang pernah menginjakkan kaki disalah satu pesantren tertua dan terbesar diujung kota itu . Tapi bagiku, setiap langkah yang kutempuh hari ini, setiap gelar, setiap kepercayaan orang, setiap pintu pendidikan yang terbuka—semuanya bermula dari satu sosok yang tak pernah menyebut dirinya hebat: ibuku.

“Setiap orang hebat pasti terlahir dari Rahim Wanita yang hebat pula”

Aku lahir dari keluarga sederhana. Ayah pergi terlalu cepat ketika aku masih belajar menghafal KalamNya. Sejak saat itu, ibulah yang menjadi segalanya: ibu, ayah, guru pertama, dan tempat pulang. Ia tak banyak mengeluh, seolah kata itu tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Yang sering kudengar justru kalimat pendek namun berat maknanya, “Nak, ilmu itu cahaya. Kalau ibu tak bisa memberi harta, biarlah cahaya itu yang menerangi hidupmu, karena kita menginginkan kebahagiaan harus dengan ilmu dan dengan ilmu pula hidup akan menjadi mudah”

Kami tinggal di rumah kecil berdinding papan. Atapnya bocor di musim hujan, dan lantainya selalu dingin meski matahari sedang terik. Namun setiap subuh, sebelum ayam berkokok, ibu sudah bangun. Ia menyiapkan air hangat, menggelar sajadah, lalu membangunkanku dengan sentuhan lembut. Tangannya kasar, penuh bekas kerja keras, tetapi sentuhannya selalu menenangkan. Aku merasa terjaga bukan karena suara, melainkan karena rasa tenang yang kurasakan,seolah ada ada sesuatu yang sedang di perjuangkan.  Setiap malam ketika bangun aku selalu menyaksikan tanpa pernah absen selalu bersujud lama, dan dengan suara lirihnya selalu menyebut namaku dalam doanya.

Sejak kecil, ibu menanamkan satu hal: adab sebelum ilmu. Ia tidak pernah sekolah tinggi, bahkan ijazah pun tak ia miliki. Tapi dari lisannya mengalir nasihat yang tak pernah kutemukan di buku pelajaran mana pun. Ia mengajarkanku menunduk saat lewat di depan orang tua, merendahkan suara ketika berbicara, mengembalikan apa pun yang bukan milik kita meski tak ada yang melihat, dan tidak pernah membela sesuatu yang salah sekalipun itu ankanya sendiri.

Ketika aku lulus sekolah dasar, ibu mulai sering berbicara tentang pesantren. Bagiku, pesantren terdengar seperti dunia asing—jauh dari rumah, jauh dari ibu. Aku takut. Aku tak pernah mengatakannya, tapi ibu seolah tahu. Suatu malam, ditengah dinginnya cuaca dibulan itu, ibu duduk di sampingku.

“Kalau kamu ingin jadi orang yang berguna, kamu harus berani pergi,” katanya pelan. “Ibu mungkin tidak selalu ada di sampingmu, tapi doa ibu akan selalu mengikutimu.”

Aku menangis malam itu. Bukan karena tidak ingin belajar, tapi karena takut kehilangan pelukan yang selama ini menjadi rumahku. Namun ibu memelukku lebih erat dari biasanya, seolah ingin menyimpan kekuatannya di dadaku.

Hari keberangkatan ke pesantren adalah hari yang paling berat. Ibu mengantarku dengan pakaian terbaik yang kami punya. Di tangannya ada tas kecil berisi pakaian, kitab, dan bekal seadanya. Wajahnya tenang, tetapi matanya merah. Saat aku mencium tangannya, ia menahan bahuku.

“Jangan pulang karena rindu,” katanya. “Pulanglah karena selesai.”

Pesantren itu sederhana, tapi penuh dengan kedisiplinan. Jadwal padat, bangun sebelum subuh, mengaji hingga larut malam. Banyak santri yang menyerah di bulan-bulan pertama. Aku hampir menjadi salah satunya. Tubuhku lelah, hatiku kosong. Pada suatu malam, aku duduk sendirian di serambi masjid, menahan tangis. Merenung dan memikirkan keadaan rumah, setelah siang tadi kusempatkan untuk menelpon ibuk karena rindu.

Setiap katanya menenangkan tetapi seperti menembus dadaku.

Nak, ibu tidak tahu kamu sedang apa sekarang. Tapi setiap selesai shalat, namamu selalu ibu sebut. Kalau kamu lelah, ingatlah bahwa ada seorang ibu yang rela lelah dua kali lipat agar kamu tidak berhenti.

Sejak malam itu, aku bertahan. Aku belajar lebih keras. Aku jatuh cinta pada kitab-kitab yang dulu terasa berat. Aku mulai memahami bahwa pendidikan di pesantren bukan hanya soal ilmu, tapi pembentukan jiwa. Aku belajar sabar, ikhlas, dan tanggung jawab.

Ibu jarang menjenguk. Bukan karena tidak rindu, tapi karena terkadang terkendala karena kesibukannya. Setiap kali datang, ia membawa hasil kebunnya sendiri—pisang, singkong, atau sekadar kerupuk buatan rumah. Ia selalu bertanya hal yang sama, “Kamu sehat? Ngaji lancar?”

Aku tahu, di balik pertanyaan sederhana itu, ada kekhawatiran yang disimpannya sendiri. Aku juga tahu, setiap rupiah yang dibawanya adalah hasil menahan lapar, menunda membeli kebutuhan sendiri.

Tahun demi tahun berlalu. Aku mulai dipercaya membantu mengajar santri yang lebih muda. Namaku mulai dikenal sebagai santri yang tekun. Ketika aku mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan, aku langsung menulis surat pada ibu. Jawabannya datang cepat.

Alhamdulillah. Berarti Allah mendengar doa ibu.

Aku lulus dari pesantren dengan prestasi yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dari santri pemalu, aku menjadi seseorang yang berani berdiri di depan, berbicara, dan mengajar. Aku melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, masih di jalur keilmuan yang sama. Setiap keberhasilan selalu terasa kurang lengkap tanpa kehadiran ibu.

Ketika akhirnya aku diwisuda, ibu duduk di barisan depan. Pakaiannya sederhana, tapi wajahnya bersinar. Saat namaku dipanggil, aku melihatnya menengadah, kedua tangannya terangkat, bibirnya bergetar menyebut doa.

Aku turun dari panggung dan memeluknya. Untuk pertama kalinya, aku merasakan tubuhnya yang kini semakin ringkih. Waktu telah mencuri banyak tenaganya. Di saat itulah aku sadar: kesuksesanku dibangun dari pengorbanan yang tidak pernah ia pamerkan.

Hari ini, aku mengajar. Aku mendidik. Aku berdiri di hadapan generasi baru dengan ilmu yang dulu ia perjuangkan untukku. Setiap kali aku lelah, aku teringat ibu. Setiap kali aku merasa cukup, aku ingat bahwa semua ini bermula dari doa seorang perempuan sederhana yang tak pernah menyerah pada keadaan.

Ibu tidak pernah meminta balasan. Bahkan ketika aku sudah mampu memberi, ia hanya berkata, “Ibu sudah cukup bahagia melihatmu jadi orang yang bermanfaat.”

Kini, ketika rambutnya memutih dan langkahnya melambat, aku sering duduk di sampingnya, mendengarkan cerita-cerita lama yang dulu tak sempat kudengar. Aku menggenggam tangannya—tangan yang dulu menuntunku berjalan, menulis, berdoa, dan bertahan.

Jika dunia bertanya siapa yang paling berjasa dalam pendidikanku, aku tak akan menyebut sekolah, pesantren, atau gelar apa pun terlebih dahulu. Aku akan menyebut satu nama: ibu.

Karena dari rahimnya aku lahir, dari doanya aku tumbuh, dan dari kesabarannya aku sampai sejauh ini.

Terimakasih ibuku..

Cerita ini kutulis dengan hati yang pelan dan air mata yang tak bisa ku bendung, karena setiap kata tentangmu itu lebih besar dari keberanianku unyuk menuliskannya. Ada cinta yang terlalu luas untuk di ringkas dalam sebuah kata, dan ada rindu yang tak pernah pergi meski saling menatap setiap hari.

Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih, meski kata ini tak akan pernah cukup. Terima kasih telah menggendong lelah dan beratnya perjuangan hidup agar aku bisa tumbuh. Engkau mengajarkanku arti kuat bukan dengan suara keras tetapi dengan kesabaran dan doa yang tak pernah dipertontonkan.

Ibu engkau adalah rumah bagiku, dimatamu aku tak pernah gagal untuk dicintai. Dalam pelukanmu aku belajar bahwa dunia boleh kejam, tetapi pelukan dan kasih sayangmu adalah tempat kembali dan menemukan sebuah Solusi, Doamu mugkin lirih tetapi dampaknya menembus langit dan selalu menggema dalam hidupku sampai saat ini.

Aku sadar bahwa semua harapanmu tentangku masih terlalu jauh dari yang kau harapkan. Ada langkahku yang tertatih, ada pilihanku yang mengecewakan. Maafkan anakmu atas segala luka yang tak sengaja ku perbuat, atas jarak yang kadang terjadi tapi itusemua bukan karena kebenciaan tapi itu adalah suatu proses pendewasaanku.

Namun percayalah kesuksesanku dan keberanianku saat ini adalah hasil dari didikan dan doamu di setiap sujud malammu. Setiap kali aku memilih jujur dengan keadaan meskipun sulit, dan bangkit setlah berkali-kali jatuh itu karena aku belajar dari pengalamanmu yang sudah lebih dulu.

Bapak Ibuk...

Dalam setiap hembusan nafasmu, engkau selalu memberikan kasih sayang untuk kami.

Dalam setiap untaian do'amu yang panjang, engkau selalu sisipkan nama kami.

Dalam setiap gerak tubuhmu, engkau selalu dekapkan kehangatan untuk kami.

Dan dalam setiap butiran air matamu, engkau selalu bisikkan kata cintamu untuk kami.

Kasih saying yang ibuk berikan membuatku terasa hangat, padahal dunia bernaung dengan kerasnya

Senyum ikhlasmu membuat diri ini terasa nyama, walaupun letih yang engkau sembunyikan tetap saja bisa kurasakan.

Bapak Ibuk..

Engkaulah anugerah terindah yang pernah kami miliki sepanjang perjalanan kehidupan ini.

Dalam setiap kesedihan yang pernah mendera, engkau selalu berikan senyum kehangatan.

Dalam setiap kesulitan yang kami alami, engkau selalu berikan solusi untuk menenangkan kalbu

Dalam setiap kegundahan yang selalu membuat kami jatuh, engkau selalu hadir untuk menopang raga ini agar tidak runtuh.

Dan dalam setiap kepenatan yang kami rasa, engkau selalu memberikan pijatan lembut berupa nasihat.

Terima kasih Ibu…

Engkau selalu menghabiskan waktu hanya untuk membesarkanku tanpa kenal lelah.

Engkau selalu buat kasih sayang itu menjadi kebiasaan yang masih sering kami lupakan.

Engkau selalu memberi apapun yang kami butuhkan tanpa pernah sedikitpun meminta.

Engkau selalu menyiram kasih sayang dalam setiap detik menit hingga tahun yang berlalu dari atas langit yang tidak terbatas dan dari tepian laut yang tidak berujung.

Engkau selalu topangkan kasih sayang tanpa merasa lelah hingga mulai memutih rambut.

Tak ada kata lain selain doa terbaik untukmu

Yaa Rabb..

Berilah balasan yang sebaik-baik balasan atas setiap didikan yang beliau berikan untuk diriku.

Berikanlah pula pahala yang sepadan atas kasih sayang yang selalu beliau limpahkan untuk putra-putrinya.

Dan lindungilah beliau dalam usia senjanya sebagaimana beliau merawat kami dulu waktu kecil hingga sekarang ini.

Apa saja yang telah beliau rasakan atas kesusahaan yang beliau derita karena kami, jadikanlah itu semua penyebab susutnya dosa-dosa beliau dan bertambahnya pahala untuk beliau.

Yaa Rabb..

Panjangkanlah usia beliau hingga kami dapat memberikan segenap kebahagian untuknya.

Berikanlah kami kemampuan untuk terus dapat menjaganya diumur senjanya.

Yaa Rabbi Sahhil Umuronaa.

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer