Namaku mungkin
hanya satu di antara ribuan santri yang pernah menginjakkan kaki disalah satu
pesantren tertua dan terbesar diujung kota itu . Tapi bagiku, setiap langkah
yang kutempuh hari ini, setiap gelar, setiap kepercayaan orang, setiap pintu
pendidikan yang terbuka—semuanya bermula dari satu sosok yang tak pernah
menyebut dirinya hebat: ibuku.
“Setiap orang hebat pasti terlahir dari Rahim Wanita yang hebat pula”
Aku lahir dari keluarga sederhana. Ayah pergi terlalu cepat ketika aku masih belajar menghafal KalamNya. Sejak saat itu, ibulah yang menjadi segalanya: ibu, ayah, guru pertama, dan tempat pulang. Ia tak banyak mengeluh, seolah kata itu tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Yang sering kudengar justru kalimat pendek namun berat maknanya, “Nak, ilmu itu cahaya. Kalau ibu tak bisa memberi harta, biarlah cahaya itu yang menerangi hidupmu, karena kita menginginkan kebahagiaan harus dengan ilmu dan dengan ilmu pula hidup akan menjadi mudah”
Kami tinggal di
rumah kecil berdinding papan. Atapnya bocor di musim hujan, dan lantainya
selalu dingin meski matahari sedang terik. Namun setiap subuh, sebelum ayam
berkokok, ibu sudah bangun. Ia menyiapkan air hangat, menggelar sajadah, lalu
membangunkanku dengan sentuhan lembut. Tangannya kasar, penuh bekas kerja
keras, tetapi sentuhannya selalu menenangkan. Aku merasa terjaga bukan karena
suara, melainkan karena rasa tenang yang kurasakan,seolah ada ada sesuatu yang
sedang di perjuangkan. Setiap malam ketika
bangun aku selalu menyaksikan tanpa pernah absen selalu bersujud lama, dan
dengan suara lirihnya selalu menyebut namaku dalam doanya.
Sejak kecil, ibu
menanamkan satu hal: adab sebelum ilmu. Ia tidak pernah sekolah tinggi, bahkan
ijazah pun tak ia miliki. Tapi dari lisannya mengalir nasihat yang tak pernah
kutemukan di buku pelajaran mana pun. Ia mengajarkanku menunduk saat lewat di
depan orang tua, merendahkan suara ketika berbicara, mengembalikan apa pun yang
bukan milik kita meski tak ada yang melihat, dan tidak pernah membela sesuatu
yang salah sekalipun itu ankanya sendiri.
Ketika aku lulus
sekolah dasar, ibu mulai sering berbicara tentang pesantren. Bagiku, pesantren
terdengar seperti dunia asing—jauh dari rumah, jauh dari ibu. Aku takut. Aku
tak pernah mengatakannya, tapi ibu seolah tahu. Suatu malam, ditengah dinginnya
cuaca dibulan itu, ibu duduk di sampingku.
“Kalau kamu
ingin jadi orang yang berguna, kamu harus berani pergi,” katanya pelan. “Ibu
mungkin tidak selalu ada di sampingmu, tapi doa ibu akan selalu mengikutimu.”
Aku menangis
malam itu. Bukan karena tidak ingin belajar, tapi karena takut kehilangan
pelukan yang selama ini menjadi rumahku. Namun ibu memelukku lebih erat dari
biasanya, seolah ingin menyimpan kekuatannya di dadaku.
Hari
keberangkatan ke pesantren adalah hari yang paling berat. Ibu mengantarku
dengan pakaian terbaik yang kami punya. Di tangannya ada tas kecil berisi
pakaian, kitab, dan bekal seadanya. Wajahnya tenang, tetapi matanya merah. Saat
aku mencium tangannya, ia menahan bahuku.
“Jangan pulang
karena rindu,” katanya. “Pulanglah karena selesai.”
Pesantren itu
sederhana, tapi penuh dengan kedisiplinan. Jadwal padat, bangun sebelum subuh,
mengaji hingga larut malam. Banyak santri yang menyerah di bulan-bulan pertama.
Aku hampir menjadi salah satunya. Tubuhku lelah, hatiku kosong. Pada suatu
malam, aku duduk sendirian di serambi masjid, menahan tangis. Merenung dan
memikirkan keadaan rumah, setelah siang tadi kusempatkan untuk menelpon ibuk
karena rindu.
Setiap katanya menenangkan
tetapi seperti menembus dadaku.
Nak, ibu tidak
tahu kamu sedang apa sekarang. Tapi setiap selesai shalat, namamu selalu ibu
sebut. Kalau kamu lelah, ingatlah bahwa ada seorang ibu yang rela lelah dua
kali lipat agar kamu tidak berhenti.
Sejak malam itu,
aku bertahan. Aku belajar lebih keras. Aku jatuh cinta pada kitab-kitab yang
dulu terasa berat. Aku mulai memahami bahwa pendidikan di pesantren bukan hanya
soal ilmu, tapi pembentukan jiwa. Aku belajar sabar, ikhlas, dan tanggung
jawab.
Ibu jarang
menjenguk. Bukan karena tidak rindu, tapi karena terkadang terkendala karena
kesibukannya. Setiap kali datang, ia membawa hasil kebunnya sendiri—pisang,
singkong, atau sekadar kerupuk buatan rumah. Ia selalu bertanya hal yang sama,
“Kamu sehat? Ngaji lancar?”
Aku tahu, di
balik pertanyaan sederhana itu, ada kekhawatiran yang disimpannya sendiri. Aku
juga tahu, setiap rupiah yang dibawanya adalah hasil menahan lapar, menunda
membeli kebutuhan sendiri.
Tahun demi tahun
berlalu. Aku mulai dipercaya membantu mengajar santri yang lebih muda. Namaku
mulai dikenal sebagai santri yang tekun. Ketika aku mendapat beasiswa untuk
melanjutkan pendidikan, aku langsung menulis surat pada ibu. Jawabannya datang
cepat.
Alhamdulillah.
Berarti Allah mendengar doa ibu.
Aku lulus dari
pesantren dengan prestasi yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dari santri
pemalu, aku menjadi seseorang yang berani berdiri di depan, berbicara, dan
mengajar. Aku melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, masih di
jalur keilmuan yang sama. Setiap keberhasilan selalu terasa kurang lengkap
tanpa kehadiran ibu.
Ketika akhirnya
aku diwisuda, ibu duduk di barisan depan. Pakaiannya sederhana, tapi wajahnya
bersinar. Saat namaku dipanggil, aku melihatnya menengadah, kedua tangannya
terangkat, bibirnya bergetar menyebut doa.
Aku turun dari
panggung dan memeluknya. Untuk pertama kalinya, aku merasakan tubuhnya yang
kini semakin ringkih. Waktu telah mencuri banyak tenaganya. Di saat itulah aku
sadar: kesuksesanku dibangun dari pengorbanan yang tidak pernah ia pamerkan.
Hari ini, aku
mengajar. Aku mendidik. Aku berdiri di hadapan generasi baru dengan ilmu yang
dulu ia perjuangkan untukku. Setiap kali aku lelah, aku teringat ibu. Setiap
kali aku merasa cukup, aku ingat bahwa semua ini bermula dari doa seorang
perempuan sederhana yang tak pernah menyerah pada keadaan.
Ibu tidak pernah
meminta balasan. Bahkan ketika aku sudah mampu memberi, ia hanya berkata, “Ibu
sudah cukup bahagia melihatmu jadi orang yang bermanfaat.”
Kini, ketika
rambutnya memutih dan langkahnya melambat, aku sering duduk di sampingnya,
mendengarkan cerita-cerita lama yang dulu tak sempat kudengar. Aku menggenggam
tangannya—tangan yang dulu menuntunku berjalan, menulis, berdoa, dan bertahan.
Jika dunia
bertanya siapa yang paling berjasa dalam pendidikanku, aku tak akan menyebut
sekolah, pesantren, atau gelar apa pun terlebih dahulu. Aku akan menyebut satu
nama: ibu.
Karena dari
rahimnya aku lahir, dari doanya aku tumbuh, dan dari kesabarannya aku sampai
sejauh ini.
Terimakasih
ibuku..
Cerita ini kutulis
dengan hati yang pelan dan air mata yang tak bisa ku bendung, karena setiap
kata tentangmu itu lebih besar dari keberanianku unyuk menuliskannya. Ada cinta
yang terlalu luas untuk di ringkas dalam sebuah kata, dan ada rindu yang tak
pernah pergi meski saling menatap setiap hari.
Aku hanya ingin
mengucapkan terima kasih, meski kata ini tak akan pernah cukup. Terima kasih
telah menggendong lelah dan beratnya perjuangan hidup agar aku bisa tumbuh.
Engkau mengajarkanku arti kuat bukan dengan suara keras tetapi dengan kesabaran
dan doa yang tak pernah dipertontonkan.
Ibu engkau
adalah rumah bagiku, dimatamu aku tak pernah gagal untuk dicintai. Dalam
pelukanmu aku belajar bahwa dunia boleh kejam, tetapi pelukan dan kasih
sayangmu adalah tempat kembali dan menemukan sebuah Solusi, Doamu mugkin lirih
tetapi dampaknya menembus langit dan selalu menggema dalam hidupku sampai saat
ini.
Aku sadar bahwa
semua harapanmu tentangku masih terlalu jauh dari yang kau harapkan. Ada
langkahku yang tertatih, ada pilihanku yang mengecewakan. Maafkan anakmu atas
segala luka yang tak sengaja ku perbuat, atas jarak yang kadang terjadi tapi
itusemua bukan karena kebenciaan tapi itu adalah suatu proses pendewasaanku.
Namun percayalah
kesuksesanku dan keberanianku saat ini adalah hasil dari didikan dan doamu di
setiap sujud malammu. Setiap kali aku memilih jujur dengan keadaan meskipun
sulit, dan bangkit setlah berkali-kali jatuh itu karena aku belajar dari
pengalamanmu yang sudah lebih dulu.
Bapak Ibuk...
Dalam setiap
hembusan nafasmu, engkau selalu memberikan kasih sayang untuk kami.
Dalam setiap
untaian do'amu yang panjang, engkau selalu sisipkan nama kami.
Dalam setiap
gerak tubuhmu, engkau selalu dekapkan kehangatan untuk kami.
Dan dalam setiap
butiran air matamu, engkau selalu bisikkan kata cintamu untuk kami.
Kasih saying
yang ibuk berikan membuatku terasa hangat, padahal dunia bernaung dengan
kerasnya
Senyum ikhlasmu
membuat diri ini terasa nyama, walaupun letih yang engkau sembunyikan tetap
saja bisa kurasakan.
Bapak Ibuk..
Engkaulah anugerah
terindah yang pernah kami miliki sepanjang perjalanan kehidupan ini.
Dalam setiap
kesedihan yang pernah mendera, engkau selalu berikan senyum kehangatan.
Dalam setiap
kesulitan yang kami alami, engkau selalu berikan solusi untuk menenangkan kalbu
Dalam setiap
kegundahan yang selalu membuat kami jatuh, engkau selalu hadir untuk menopang
raga ini agar tidak runtuh.
Dan dalam setiap
kepenatan yang kami rasa, engkau selalu memberikan pijatan lembut berupa
nasihat.
Terima kasih
Ibu…
Engkau selalu
menghabiskan waktu hanya untuk membesarkanku tanpa kenal lelah.
Engkau selalu
buat kasih sayang itu menjadi kebiasaan yang masih sering kami lupakan.
Engkau selalu
memberi apapun yang kami butuhkan tanpa pernah sedikitpun meminta.
Engkau selalu
menyiram kasih sayang dalam setiap detik menit hingga tahun yang berlalu dari
atas langit yang tidak terbatas dan dari tepian laut yang tidak berujung.
Engkau selalu
topangkan kasih sayang tanpa merasa lelah hingga mulai memutih rambut.
Tak ada kata
lain selain doa terbaik untukmu
Yaa Rabb..
Berilah balasan
yang sebaik-baik balasan atas setiap didikan yang beliau berikan untuk diriku.
Berikanlah pula
pahala yang sepadan atas kasih sayang yang selalu beliau limpahkan untuk
putra-putrinya.
Dan lindungilah
beliau dalam usia senjanya sebagaimana beliau merawat kami dulu waktu kecil
hingga sekarang ini.
Apa saja yang
telah beliau rasakan atas kesusahaan yang beliau derita karena kami, jadikanlah
itu semua penyebab susutnya dosa-dosa beliau dan bertambahnya pahala untuk
beliau.
Yaa Rabb..
Panjangkanlah
usia beliau hingga kami dapat memberikan segenap kebahagian untuknya.
Berikanlah kami
kemampuan untuk terus dapat menjaganya diumur senjanya.
Yaa Rabbi Sahhil
Umuronaa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar